MENCARI HUKUM ALLAH

“Sesungguhnya Hak Pembuat Hukum Hanyalah Allah swt”

  • Komentar Terbaru

    infogue di Penyebab Kecelakaan, Rok Mini…
    Esa di Kaulah jadi Penguasa Hati…
    Esa di Jubir HTI Ismail Yusanto: Cerm…
    dayati di Akibat menerima Telpon Saat HP…
    arRa II di GEMBONG2 MUNAFIK
    ressay di Jubir HTI Ismail Yusanto: Cerm…
    canaprasetya di Khilafah Bukan Sistem Tot…
    den Koplak di Pembela Akidah yang Vokal itu…
    Yannah Az Zahra di GEMBONG2 MUNAFIK
    khilafahstuff di RUMAH PALING ANGKER DI INDONES…
  • IP
  • Arsip

  • Flickr Photos

  • Tulisan Teratas

  • Disaat Futur Menggusur Keimanan

    Posted by canaprasetya pada Agustus 10, 2008

    Oleh : Cana Prasetya, S.H

    Tekanan yang hebat terhadap dakwah di Makkah menyebabkan Rasulullah SAW memerintahkan sebagian kaum Muslimin untuk hijrah ke Habasyah, sebuah negeri Nasrani yang dipimpin oleh Najasyi, seorang raja yang dipandang cukup adil terhadap rakyatnya. Puluhan sahabat Rasulullah menetap di wilayah Nasrani tersebut.Selamasepuluh tahun hidup di negeri orang, tentu bukan waktu yang sedikit untuk sebuah interaksi sosial yang bisa saling mempengaruhi. Ubaidillah bin Jahsy adalah salah seorang dari rombongan kaum Muslimin yang terpengaruh oleh budaya dan keyakinan masyarakat setempat. Awalnya ia tergoda untuk mengunjungi warung-warung minuman keras orang Habasyah. Selanjutnya, karena sering berada di tempat bermabuk-mabukan itu, lama-kelamaan pergaulannya dengan rakyat Habasyah membuat keyakinan dan perilakunya berubah drastis. Puncaknya, Ubaidillah keluar dari Islam alias murtad.
    Dalam sejarah Islam, barangkali Ubaidillah bin Jahsy adalah fenomena pertama runtuhnya semangat keislaman akibat terkikis oleh arus lingkungan.

    Sukar dibayangkan bagaimanakah seorang aktivis dakwah melarikan diri ke jalan yang bertentangan dengan tujuan dakwahnya sendiri? Tetapi inilah kenyataannya. Tidak sedikit kasus yang mencerminkan realitas orang-orang yang terpental dari jalan kebenaran. Dalam salah satu riwayat dikisahkan, suatu ketika dalam perang Hunain, Abu Hurairah melihat laki-laki yang bertempur dengan sangat gigih dan membunuh banyak musuh. Dengan luka parah ia kemudian kembali dari pertempuran. Tetapi kemudian esoknya laki-laki itu meninggal. Mengetahui hal itu Rasulullah justru berkata, “Dia masuk neraka.” Sebagian kaum Muslimin sempat meragukan pernyataan Rasulullah tersebut. Namun kemudian tersebarlah berita bahwa sesungguhnya laki-laki yang terluka sangat berat itu pada malam harinya tidak sabar atas sakitnya, kemudian ia bunuh diri. Berita itu kemudian disampaikan kepada Rasulullah. Maka beliau bersabda: “Allahu Akbar! Saksikan bahwa sesungguhnya aku adalah hamba Allah dan utusan-Nya.“ Rasulullah selanjutnya berpidato di hadapan para sahabat.“Sesungguhnya tidak akan masuk surga kecuali seorang yang jiwanya menyerahkan diri (kepada Allah). Dan sesungguhnya Allah mengokohkan agama ini dengan orang-orang yang berdosa (fajir).” (HR Muslim) Ada sebuah cerita ni…dizaman

    Rosulloh tentunya ada lelaki yang sangat berjasa kepada dakwah Islam, karena ia membunuhi banyak musuh dalam perang Hunain. Tetapi sayang ia mati bunuh diri lantaran tak kuat menahan sakit pada luka-luka di tubuhnya. Ini adalah contoh bagaimana seorang Muslim pada masa kenabian mengakhiri jalan dakwahnya dengan cara yang amat tragis.

    Dari kisah Ubaidillah bin Jahsy di atas menjadi pelajaran pada kita, bahwa fenomena kegagalan seseorang untuk tetap berada di atas rel dakwah adalah problema yang muncul pada setiap zaman. Jangankan orang di zaman ini, orang-orang yang dibina langsung oleh Rasulullah pun ada yang akhirnya tergelincir. Jadi siapapun dapat terjangkit penyakit futur manakala membiarkan dirinya mengalami penurunan kualitas ruhani yang terus-menerus, sehingga akhirnya terlepas sama sekali dari komitmen terhadap ajaran Islam dan jamahnya.

    Perlu ditegaskan lagi, yang terlarang dan harus diwaspadai adalah penurunan kualitas keimanan yang terus-menerus. Sedangkan penurunan sesaat kemudian meningkat pada saat lain belum termasuk fenomena futur. Kalaupun disebut futur, tergolong futur yang ringan.

    Fenomena itu merupakan fluktuasi wajar dan manusiawi pada setiap insan, sebagaimana Rasulullah pernah sampaikan bahwa keimanan itu terkadang yazid (meningkat) dan terkadang yanqush (menurun). Karena perbedaan yang lumayan tipis ini sejumlah sahabat Nabi ada yang pernah mengkhawatiri dirinya terhinggapi penyakit futur berupa nifaq (kemunafikan). Salah seorang diantaranya adalah Hanzhalah RA dan Abu Bakar RA. Suatu hari Hanzhalah menemui Abu Bakar, sahabat Rasulullah SAW yang paling setia. Ia berkata: “Wahai Abu Bakar! Sungguh aku ini telah nifaq!”
    Abu Bakar terkejut mendengar ucapan Hanzhalah tersebut dan bertanya, “Mengapa demikian?” Hanzhalah menjawab, “Sesungguhnya jika aku dekat dengan Rasulullah dan mendengar nasihat-nasihat beliau maka terbayanglah surga dan neraka di hadapanku. Tetapi bila aku jauh, dan telah berkumpul bersama keluargaku, maka hal itu tidak terbayangkan lagi.” Abu Bakar kemudian berkata: Demi Allah, Hanzhalah! Akupun merasakan hal yang sama.” Maka kedua orang sahabat ini kemudian pergi menemui Rasulullah SAW untuk mengungkapkan perasaan hati mereka. Rasulullah SAW tersenyum dan menasehati keduanya, bahwa memang jika bayangan surga dan neraka itu terus-menerus melekat alangkah baiknya, namun apa yang terjadi pada mereka bukanlah nifaq, melainkan sekedar pergantian suasana batin. Kata beliau, “Sesaat dan sesaat.” Maksudnya, suasana batin setiap manusia ada saatnya khusyuk dalam menerima nasihat agama, sementara pada saat yang lain tenggelam dalam keceriaan bersama keluarga. Itu sangat manusiawi, bahkan Rasulullah pun berlaku demikian. Jika sedang bersama keluarganya, beliau asyik bercanda dan bercengkrama, tetapi begitu mendengar adzan beliau segera beranjak pergi ke masjid.Jadi ada perbedaan antara mereka dengan Ubaidillah bin Jahsy. Rasulullah dan sahabatnya hanya sesaat membiarkan dirinya ceria bersama keluarga, kemudian pada saat yang lain segera sibuk dalam ativitas meningkatkan iman kembali. Sedangkan Ubaidillah bin Jahsy terus membiarkan dirinya tenggelam dalam kesesatan tanpa mau kembali ke jalan kebenaran.Dalam hadits lain Rasulullah menyatakan, kalaupun seseorang berada dalam keadaan futur, hendaknya masih tetap berada dalam koridor sunnahnya:

    “Bagi tiap-tiap amal ada masa-masa rajinnya, dan tiap-tiap masa rajin itu ada saat-saat menurunnya (futur). Barangsiapa yang saat-saat menurunnya (tetap berpegang) kepada sunnahku, maka sesungguhnya ia telah memperoleh petunjuk, dan barangsiapa yang saat-saat menurunnya (berpegang) kepada sunnahku, maka sesungguhnya ia telah memperoleh petunjuk, dan barangsiapa yang saat-saat menurunnya (berpegang) kepada selain sunnahku, maka sungguhnya ia telah tersesat. (HR Al-Bazzar)

    Futur berasal dari bahasa Arab yang artinya terputus, berhenti, malas dan lambat, setelah sebelumnya rajin dan konsisten. Dalam konteks dakwah, futur bermakna kondisi menurunnya semangat beriman dan beramal shalih, serta melemahnya gairah seseorang dalam berjihad dan berdakwah.Seperti yang ditunjukkan pada contoh-contoh diatas, futur terdiri dari banyak tingkatan. Yang paling ringan adalah apabila sesorang mengalami penurunan kualitas ruhiah ibadah dan amal shalih. Lebih jauh adalah tingkatan yang mulai meninggalkan sama sekali ibadah dan amal shalih tersebut. Dan yang paling parah adalah meninggalkan keimanan sama sekali sebagaimana terjadi pada Ubaidillah bin Jahsy.(Untung Wahyono Di : http://pks-ngawen.blogspot.com/

    Semangat dakwah ini kadang memang menurun disaat kita mengalami dehidrasi ibadah yang tidak kosisten. Hal ini terasa dalam berbagai kesempatan. Suatu ketika saya bersama temen-teman mengadakan agenda dauroh rutin, pada saat itu dikarenakan kurangnya dana maka acara tersebut kurang begitu berhasil. Akhirnya acara itupun kacau walaupun sedikit tapi tetap ada keberhasilan. Tapi yakin bahwa Allah akan mencatat amalan kita walaupun sekecil biji zaroh iya ga? Bahkan Allah melihat dari usaha kita bukan hasil. Pada saat itulah teman-teman satu jamaah mengalami futur. Ada yang mereka kurang semangat, ada yang memutuskan untuk apatis, ada yang tetap bertahan…heee…kalau kita kaji lebih mendalam dalam tahap inilah kita diuji atas keimanan, keistiqomahan kita dalam memperjuangkan agama Alalh. Apakah kita istiqomah atau tidak. Ya paling ga ya futur ringan ga pa2 tapi kembalikan lagi semangat kita. Kadang aku mendengarkan lagu2 penyemangat dan tauziah-tauziah , lumayan bisa bikin hati ini nyes…nyes…gimna githu.wekk

    Tapi memang benar menurunya sengat itu kadang menurun kadang naik. Tapi hati-hati loh kalau dibiarin. Jadi ces lagi aja imanya. Kayak HP aja ya. Pada saat inipun, aku menulis ini atas dasar aku takut terjerumus kedalam kefuturan yang berkepanjangan. Ceritanya gini. Aku itu dah 4 bulan ga kajian tuh. Kering banget hati ini. Kadang hati ini takut banget futur. Sebab masalah itu ada gini, banyak tuh. Semua itu disebabkan aku juga. Kurang dewasa menyikapi permasalahan yang ada. Maksudnya aku kadang frustasi dengan keadaanku keadaan saat ini..he…jangan ditiru ya..dalam aspek ini aku kurang bersyukur atas pada apa2 yang diberi Allah. Itulah yang membuat futur he..he..ketahuan deh. 2 bulan sempat drop.he..

    Jadi futur itu satu hal yang manusiawi tapi jangan dibiarkan tetap dalam kefuturan. Berbahaya loh…

    Dalam hal ini penyebab-penyebab future adalah:

    1. Ruhiyah yang kering
    Kekuatan ruhiyah merupakan kekuatan dasar yang harus dimiliki oleh seorang dai’. Kekuatan ruhiyah dinilai dari sejauh mana kedekatan kita dengan Allah SWT. Kedekatan yang menjadi sumber kekuatan ruhiyah ini hanya dapat diperoleh dengan melakukan ibadah-ibadah sunnah disamping ibadah wajib seperti qiyamullail, tilawah, shoum sunnah, infaq dan shodaqoh. Kelemahan dalam tarbiyah baik itu tabiyah jamiyah maupun dzatiyah kerap kali menjadi penyebab utama seorang dai’ menjadi futur dalam menjalani aktvitas dakwahnya. Ketidak kosistenan dalam melakukan amalan-amalan yaumiah menyebabkan seorang aktivis sulit untuk menjaga kosistensi semangat dalam setiap aktivitasnya.
    Seperti yang kita ketahui salah satu karakteristik jalan dakwah ini adalah “katsratu ‘aqabat” (hambatannya banyak), untuk itulah diperlukan perbekalan yang cukup untuk menjalaninya. Perbekalan yang utama yang harus dimiliki seorang dai’ adalah kekuatan ruhiyah. Kekuatan ruhiyah akan menjadi benteng diri kita dari berbagai macam cobaan, godaan dan ujian yang terdapat dijalan dakwah. Seorang dai’ yang selalu lalai dan tidak indibath dalam memperhatikan tarbiyah dzatiyah dapat diibaratkan bagai lilin yang selalu berusaha menerangi sekitarnya namun lambat laun lilin tersebut lama kelamaan meleleh dan akhirnya habis tidak bisa lagi mengeluarkan cahaya dan penerangan bagi sekitarnya.

    2. Kecewa dan sakit hati

    Kekecewaan terhadap jamaah/personel dalam jamaah dan keputusan yang dikeluarkannya kerapkali menjadi faktor penyebab seseorang itu futur atau bahkan dalam tingkatan yang lebih membahayakan dapat menyebabkan seseorang insilakh (hengkang/keluar) dari jamaah. Secara umum hal ini disebabkan oleh kelemahan dalam pemahaman dan keikhlasan. Yang harus dipahami disini bahwa jamaah ini bukan jamaah malaikat, sehingga kekecewaan yang terjadi dan yang kita alami jangan sampai membuat kita hilang semangat dalam berdakwah sehingga akhirnya memutuskan untuk meninggalkan dakwah ini.
    Kasus-kasus futur yang disebabkan hal ini sudah memasuki dimensi kehidupan jamaah atau tanzhim. Gejala yang paling umum adalah lemahnya semangat dalam merespon berbagai perintah (amr) atau keputusan (qororot) jamaah dakwah. Kasus ini beriringan dengan gejala melemahnya tanggung jawab (ruh al-mas’uliyah) sebagian aktivis dakwah dalam menjalankan tugas-tugas struktural dakwah. Kasus yang lebih serius yang mungkin muncul adalah penolakan terhadap tugas-tugas yang diamanahkan oleh struktural dakwah dengan alasan yang cenderung dicari-cari.

    3. Lemahnya Intima’

    Sesungguhnya hal pertama yang menjadi kewajiban para aktivis Islam adalah sepenuhnya menyadari bahwa merekalah sebenarnya yang membutuhkan Islam dan ketika mereka berjuang dan berjihad, hakikatnya dilakukan dalam rangka membersihkan dirinya, menyucikan jiwanya, melaksanakan hak Allah SWT yang wajib mereka tunaikan. (Fathi Yakan)
    Seorang dai’ harus memahami bahwa dialah yang membutuhkan dakwah, bukan sebaliknya dakwah yang membutuhkannya. Futurnya seorang aktivis dakwah bisa jadi disebabkan rendahnya pemahaman dan komitmennya terhadap Dakwah Islamiyah. Di samping itu temuan kasus-kasus rinci di lapangan yang terkait dengan melemahnya komitmen dakwah (intima’ da’awi) sebagian kader dakwah karena mulai tersibukkan urusan nafkah (maisyah), hal ini menunjukkan juga pergeseran orientasi hidup dari dakwah kepada kepentingan-kepentingan materiil duniawi. Amatlah penting bagi seorang aktivis dakwah memahami dan mentadaburi ayat Allah di bawah ini:
    dan jika kamu berpaling niscaya dia akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain; dan mereka tidak akan seperti kamu ini. (QS.Muhammad:38)

    Dampak-dampak Yang Terjadi Bila Futur Sudah Menjangkiti Aktivis dakwah

    -Menurunnya daya rekrutment kader dakwah.

    -Menurunnya kualitas tarbiyah dan dakwah para kader.

    -Stagnannya produktivitas dakwah.

    -Terjadinya pergeseran orientasi hidup dan tashawur (persepsi) jamaah.

    -Munculnya kasus-kasus pelanggaran syar’i.

    -Tidak optimalnya pendayagunaan potensi kader.

    -Lemahnya kepemimpinan dan kualitas hubungan antara qiyadah wal jundiyah.

    -Tidak efektifnya fungsi-fungsi kerja struktur.

    -Melemahnya kredibilitas struktur dan jajaran qiyadah/mas’ul.

    -Terganggunya citra dakwah di mata masyarakat.

    -Terbukanya aurat gerakan.Cara Mengatasi Futur

    Futur yang terjadi kebanyakan berpangkal dari keringnya iman dan ruhiyah, sehingga langkah utama dalam mengatasi hal ini utamanya harus memperhatikan rekonstruksi iman dan ruhiyah. Rekonstruksi iman amatlah penting bagi seorang dai’, karena kerapkali para dai’ sibuk dalam mengerjakan aktivitas dakwah, atau mencurahkan segala tenaganya untuk aktivitas Islam, namun lalai dalam mengurusi hati dan memberikan perhatian penuh kepadanya. Padahal seorang dai’ berdakwah dengan hatinya, bukanlah dengan organ tubuh yang lain. Kalaupun organ tubuh yang lain berbuat kebaikan maka itu karena kebaikan hati dan semangatnya kepada kebaikan.

    Pertanyaannya bagaimana memperbarui iman? Jawabnya ada beberapa metode yang bisa kita lakukan untuk merekonstruksi iman antara lain adalah:

    1. Membaca siroh generasi salaf

    Membaca siroh generasi salaf dapat memotivasi kita untuk mengikuti amal-amal mereka.

    2. Menyendiri dengan diri sendiri

    Berkhalwat (menyendiri) dapat memberikan kesempatan para untuk menginstropeksi seluruh amalan dakwah yang telah dilakukan.

    3. Mengerjakan pekerjaan sederhana

    Mengerjakan pekerjaan-pekerjaan sederhana dalam dakwah dapat melatih kerendahan hati dan mengikis kesombongan. Hal itu dapat dilakukan dengan syarat tiadak mengorbankan pekerjaan-pekerjaan besar yang lebih penting.

    4. Ziarah kubur

    Tentang hal ini Rasulullah bersabda: “Ziarahi kuburan, sebab kuburan mengingatkan kalian pada kematian.” (HR.Muslim, An Nasai, Abu Dawud, Ibnu Majah dan Al-Hakim).

    5. Mengunjungi atau berkumpul dengan orang-orang soleh

    Berkumpul dengan orang soleh, meminta nasihat kepada mereka dapat membantu kita dalam merekonstruksi iman. Inilah hikmah betapa pentingnya hidup berjamaah, dimana ada nuansa taushiyah-mentaushiyahi antar aktivis dakwah.

    6. Ingat hari-hari Allah

    Ingatlah hari-hari dimana Allah SWT menolong penolong agamanya. Hal itu akan menyadarkan kita betapa dekatnya kemengan dan kebangkitan Islam.Dan berapa banyaknya nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikutnya yang bertakwa. mereka tidak menjadi lemah Karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar. (QS. Ali Imron:146)

    1. Mahfudz Sidiq,M.Si & Musyaffa A Rahman. 2005. Agar futur tak makin mewabah. Era Intermedia. Jakarta
    2.  Majalah Tatsqif. Edisi 15, Halaman 31-34, Mei-Juni 2003
    3.  Dr. Najih Ibrahim. 2003. Taushiyah untuk aktivis Islam. An Nadwah. Jakarta 
    4. (Untung Wahyono Di : http://pks-ngawen.blogspot.com/

    Iklan

    Tinggalkan Balasan

    Please log in using one of these methods to post your comment:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s

     
    %d blogger menyukai ini: