MENCARI HUKUM ALLAH

“Sesungguhnya Hak Pembuat Hukum Hanyalah Allah swt”

  • Komentar Terbaru

    infogue di Penyebab Kecelakaan, Rok Mini…
    Esa di Kaulah jadi Penguasa Hati…
    Esa di Jubir HTI Ismail Yusanto: Cerm…
    dayati di Akibat menerima Telpon Saat HP…
    arRa II di GEMBONG2 MUNAFIK
    ressay di Jubir HTI Ismail Yusanto: Cerm…
    canaprasetya di Khilafah Bukan Sistem Tot…
    den Koplak di Pembela Akidah yang Vokal itu…
    Yannah Az Zahra di GEMBONG2 MUNAFIK
    khilafahstuff di RUMAH PALING ANGKER DI INDONES…
  • IP
  • Arsip

  • Flickr Photos

  • Tulisan Teratas

  • Hijab Qalbu*

    Posted by canaprasetya pada Juni 27, 2008

    Setiap manusia lahir dalam keadaan suci. Inilah fithrah (default/nilai dasar) manusia. Namun
    setiap manusia akan melalui fase kegelapan di dunia ini. Dimana nafsnya lupa dirinya dan tidak
    pernah menyadari pernah melakukan persaksiannya kepada Allah Ta’ala di Alam Alastu. Hal ini
    terjadi karena qalbunya tertutup oleh noda-noda dosa, sehingga nafs tidak mendapatkan energi
    dari ruh, yang berakibat nafsnya sakit, buta, tuli, bisu bahkan mungkin lumpuh.

    Dosa yang dilakukan oleh manusia pada dasarnya adalah dikarenakan manusia merelakan
    aktivitasnya diatur oleh keinginan hawa nafsu dan syahwatnya. Akibat selalu membiarkan dirinya
    diatur oleh hawa nafsu dan syahwat maka ia mencintai dunia lebih daipada akhirat.

    Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai ilahnya dan Allah
    membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan
    qalbunya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya Maka siapakah yang akan memberinya
    petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran
    (QS. 45:23)

    Yang demikian itu disebabkan karena sesungguhnya mereka mencintai kehidupan dunia lebih dari akhirat, dan bahwasanya Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang kafir. Mereka itulah orang-orang yang qalbu, pendengaran dan penglihatannya telah dikunci mati oleh Allah, dan mereka itulah orang-orang yang lalai. (QS. 16:107-108)

    Sakitnya nafs karena tidak mendapat energi yang cukup dari ruh, karena terhijab oleh noda-noda
    dosa yang menutupi qalbu, menyebabkan hawa nafsu dan syahwat semakin tidak terkendalikan.
    Aktivitasnya semakin terombang-ambing oleh hawa nafsu dan syahwatnya. Hal ini menyebabkan
    qalbu semakin tertutup oleh noda-noda dosa. Hal ini mengakibatkannya tanpa disadari ia semakin menyimpang (sesat) dari jalan Allah Ta’ala (Shirath Al Mustaqiim).

    Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka
    berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa
    nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan. (QS. 38:26)

    Kondisi perpuataran terus menerus diatas menyebabkan qalbunya semakin tertutup noda-noda
    dosa. Sehingga semakin keras dan semakin keras. Lebih keras daripada batu.

    Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal di
    antara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai daripadanya dan di antaranya
    sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air daripadanya dan di antaranya sungguh ada
    yangmeluncur jatuh, karena takut kepada Allah. Dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang
    kamu kerjakan. (QS. 2:74)

    Qalbu yang lebih keras dari batu karena diliputi oleh dosa-dosa, didalamnya dipenuhi oleh
    berhala-berhala, tuhan-tuhan manusia selain Allah Ta’ala berupa syahwat dan hawa nafsu,. Sulit
    untuk berserah diri kepada Allah Ta’ala. Dan jiwa yang memiliki qalbu seperti ini menjadi ajang
    permainan dan tipu daya syaithan.

    … bahkan qalbu mereka telah menjadi keras dan syaithanpun menampakkan kepada mereka
    kebagusan apa yang selalu mereka kerjakan. (QS. 6:43)

    Syaithan adalah musuh yang nyata Mereka akan selalu berupaya menghalang-halangi manusia dari jalan Allah Ta’ala.Media syaithan untuk menyesatkan manusia adalah hawa nafsu dan syahwat. Sehingga ketika manusia telah dapat mengendalikan hawa nafsu dan syahwatnya, maka syaithan kehilangan medianya untuk menyesatkan manusia.

    Karenanya, iblis tidak sanggup menyesatkan orang-orang yang mukhlis Iblis menjawab

    :”Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalangi-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, (QS. 7:16)

    Syaitan itu memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong
    pada mereka, padahal syaitan itu tidak menjanjikan kepada mereka selain dari tipuan belaka.
    (QS. 4:120) Iblis berkata:”Ya Rabbku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma’siat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, keculi hamba-hamba Engkau yang mukhlis diantara mereka”. (QS. 15:39-40)

    Namun demikian Hawa nafsu dan syahwat tidak boleh dibunuh atau dihilangkan. Tetapi digembalakan (dikendalikan)

    Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Rabbnya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya. maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya). (QS. 79:40-41)

    Dengan tertutupnya qalbu dari cahaya Allah, maka menyempitlah dadanya dan menumpullah akalnya. Tertutuplah ia dari bimbingan Allah Ta’ala. Terlepaslah ia dari petunjuk-petunjuk Allah Ta’ala, dan terjatuh ke tangan syaithan yang akan membawanya kepada kesesatan. Membiarkan diri diatur oleh Hawa Nafsu dan Syahwat

    DOSA*

    Lahir dalam Keadaan Suci (Fithrah)

    Syaithan Menyesatkan

    Mencintai Dunia daripada Akhirat

    Tertutupnya Qalbu

    Nafsnya Sakit Karena Tidak Mendapat Energi dari Ruh

    Hawa Nafsu dan Syahwatnya Tidak Tergembalakan

    *) Looping: Menyebabkan Qalbunya semakin keras bahkan lebih keras dari batu (QS 2:74)

    Kalaupun ada petunjuk dan bimbingan Allah, namun kegelapan qalbunya menyebab ia tidak
    dapat menangkap petunjuk tersebut. Tidak ada pimpinan Allah Ta’ala bagi yang tidak memiliki
    cahaya iman.

    Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang
    yang tidak beriman. (QS. 7:27)
    Dan syaithan pun membawa lari orang-orang yang tidak beriman semakin jauh dan tersesat dari
    Shirath Al Mustaqiim.

    saya (Iblis, syaithan) benar-benar akan (menghalangi-halangi) mereka dari shiraathal mustaqiim.
    (QS. 7:16)

    Sedangkan pemimpin (pemberi petunjuk) orang-orang yang telah dianugerahi cahaya iman
    adalah Allah sendiri. Dipimpin untuk menuju Shirath Al mustaqiim.

    sesungguhnya Allah adalah Pemberi Petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada Shirath Al
    Mustaqiim. (QS. 22:54)

    Jika qalbu seseorang telah tertutup dinding, maka didunianya menjadi gelap gulita, tidak bisa
    melihat Shirath Al Mustaqiim. Jika kondisi kebutaan ini terbawa kelama kubur ketika ajalnya,
    maka keberadaanya di alam kubur yang asing dalam kondisi buta, merupakan kegelapan diatas
    kegelapan. Jauh lebih tersesat jalannya. Lebih-lebih jika kondisi butanya terbawa ke alam
    akhirat.

    Dan barangsiapa yang buta (qalbunya) di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti) ia akan lebih buta
    (pula) dan lebih tersesat jalannya. (QS. 17:72)

    Yang buta atau ditutup dalam ayat ini bukanlah mata dzahir (mata inderawi). Sebab mata dzahir
    orang tersebut melihat dunianya dan tidak ada sesuatupun yang menutupinya. Yang buta dan
    gelap gulita adalah mata qalbunya.

    Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah qalbu yang di dalam
    dada. (QS. 22:46)

    Seorang mukmin mendapat petunjuk Allah Ta’ala sebab qalbunya memang mampu menerima
    bimbingan-bimbingan-Nya. Tetapi seorang yang mata qalbunya buta dan telinga qalbunya tidak
    mendengar, maka ia akan menemui kesesatan dari jalan Allah, dikarenakan tidak memahami
    petunjuk-petunjuk-Nya. Bagaimana mungkin dapat memberi petunjuk kepada orang lain, kalau
    dirinya sendiri buta dan tuli yang menyebabkan lisannya bisu dalam menyuarakan kebenaran.
    Karena tidak bisa melihat dan mendengar, kelak di hari kiamat ia akan digiring ke Jahannam
    dengan cara di seret oleh malaikat.

    Dan barangsiapa yang ditunjuki Allah, dialah yang mendapat petunjuk dan barangsiapa yang Dia
    sesatkan maka sekali-kali kamu tidak akan mendapat penolong-penolong bagi mereka selain dari
    Dia. Dan Kami akan mengumpulkan mereka pada hari kiamat (diseret) atas muka mereka dalam
    keadaan buta, bisu dan pekak. Tempat kediaman mereka adalah neraka jahanam. Tiap-tiap kali
    nyala api jahanam itu akan padam, Kami tambah lagi bagi mereka nyalanya. (QS. 17:97)

    Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan
    yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”.
    Berkatalah ia:”Ya Rabbku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal
    aku dahulunya seorang yang melihat” (QS. 20:124-125)

    Siksa Jahanam

    Sebagian besar jin dan manusia akan memasuki jahanam, di dalamnya ada yang hanya singgah
    untuk melakukan penebusan atas dosa-dosanya, ada pula yang menjadi penghuni-penghuni
    tetapnya.

    Orang yang hatinya telah mengeras, tidak ubahnya bagai binatang ternak, walaupun matanya
    melihat dan telinganya mendengar tetapi ternak-ternak tersebut tidak akan mengerti apa-apa
    seandainya mereka diberi pengajaran-pengajaran. Hidupnya hanya tercurah untuk memuaskan
    hawa nafsu dan syahwatnya semata.

    Kebanyakan manusia bagaikan binatang ternak, walaupun diberi akal lebih dibandingkan dengan
    binatang ternak, tetapi akalnya telah tumpul untuk menuju kepada kebaikan karena dosa-dosa.
    Potensi akal dan jasmani yang dianugerahkan Allah kepada seorang manusia, yang hidupnya
    bagaikan biantang ternak, malah semakin menurunkan derajat orang tersebut di sisi Allah Ta’ala
    menjadi lebih rendah daripada binatang ternak.

    Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi nereka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia,
    mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergukan untuk memahami, dan mereka mempunyai
    mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat, dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak
    dipergunakannya untuk mendengar. Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih
    sesat lagi. Meraka itulah orang-orang yang lalai. (QS. 7:179)

    Itulah seburuk-buruk binatang dalam pandangan Allah. Sesungguhnya binatang yang seburuk-buruknya pada sisi Allah ialah orang-orang yang pekak dan tuli yang tidak mengerti apa-apapun. (QS. 8:22)

    Seorang manusia bila ingin lepas dari siksa jahanam tidak boleh membawa dosa ketika ajalnya.
    Seandainya kita datang menghadap Allah Ta’ala dengan membawa hanya sebiji dosa sekali pun,
    kita tidak akan selamat dari pembersihan jahanam.

    Sesungguhnya barangsiapa datang kepada Rabbnya dalam keadaan berdosa, maka sesungguhnya baginya neraka Jahannam. Ia tidak mati di dalamnya dan tidak (pula) hidup.
    Dan barangsiapa datang kepada Rabbnya dalam keadaan beriman, lagi sungguh-sungguh beramal saleh, maka mereka itulah orang-orang yang memperoleh tempat-tempat yang tinggi (mulia), (QS. 20:74-75)

    Dosa itu sendiri bertingkat-tingkat. Mulai dari dosa tingkat rasa, karsa (keinginan), cipta
    (pikiran), dan karya (amal). Sebagai contoh orang yang ujub (bangga diri), merasa lebih dari
    yang lain (dalam hal apa pun), maka hatinya menjadi berdosa pada tingkat rasa. Bangga diri ini
    membawa seseorang kepada kesombongan hati, yang tiada seorang pun mengetahui kecuali
    Allah TA’ALA dan mereka yang diberi izin oleh-Nya untuk mengetahui. Rasa sombong dan bangga diri adalah sesuatu yang tidak disukai Allah. Maka hal itu adalah dosa. Dan setiap dosa akan dilebur di Jahanam walaupun hanya sebesar dzarrah.

    Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri. (QS. 57:23)

    Dari Abdullah bin Mas’ud R.A, Rasulullah SAW bersabda : “Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat rasa sombong walaupun hanya sebesar dzarrah”. … “Sombong itu
    menolak kebenaran dan merendahkan sesama manusia”. (HR Muslim).

    Demikian pula dosa akibat karsa (keinginan atau kemauan). Kemauan harus disesuaikan dengan
    kemampuan. Kemauan harus sesuai dengan kepantasan atau kelayakan dan situasi serta kondisi lingkungan. Mengutamakan yang perlu dan penting dalam setiap aktivitas. Dosa akibat cipta (pikiran) dapat terjadi karena tidak menggunakan akal pikiran sesuai dengan porsinya dan tidak sia-sia. Dalam Karya (amal) dapat terjadi dosa karena tidak pandai menyesuaikan, menempatkan dan mengatur tingkah laku dan bicaranya. Dosa-dosa itulah yang menghalangi seorang hamba untuk dapat diterima Allah TA’ALA padahal keselamatan itu hanyalah di sisi Allah dan bersama Allah. Seandainya ada sesuatu yang menghalangi diri kita dengan rahmat-Nya, maka tiada tempat lain kecuali kecelakaan yang besar.

    barang siapa berbuat dosa dan ia telah diliputi oleh dosanya, mereka itulah penghui neraka,
    mereka kekal di dalamnya. (QS. 2:81)

    Sesungguhnya tiadalah beruntung orang-orang yang berbuat dosa. (QS. 10:17)
    Dan tidak ada seorangpun daripadamu, melainkan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Rabbmu
    adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan. Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertaqwa dan membiarkan orang-orang yang zalim di dalam neraka dalam keadaan berlutut. (QS. 19:71-72)

    Kecelakan besar bagi orang-orang yang dzalim. Orang-orang yang mendzalimi dirinya sendiri,
    orang-orang yang tidak mau membersihkan diri dari dosa-dosanya (berat ataupun ringan).
    Orang-orang tidak mau bertaubat atas dosa-dosa maka itulah orang-orang yang dzalim.

    … dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang dzalim. (QS.
    49:11)

    Tidak ada yang selamat kecuali orang-orang yang bertaqwa kepada Allah Ta’ala, dengan ikhlas,
    dengan hati yang bersih, selamat dari pengotoran dosa-dosa, tiada setitik dosapun yang
    menghalangi dirinya dengan Allah Ta’ala.

    kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan qalbu yang bersih (selamat). (QS. 26:89)

    Diterbitkan oleh:
    Yayasan Pendidikan Paramartha Makassar
    http://makassar.paramartha.org
    Jl. Manuruki IX No. 18 Makassar
    Telp. 0411-868961/081-2421-2655
    Email : makassar@paramartha.org

    Iklan

    Tinggalkan Balasan

    Please log in using one of these methods to post your comment:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s

     
    %d blogger menyukai ini: