Oleh : Cana Prasetya, S.H
Tekanan yang hebat terhadap dakwah di Makkah menyebabkan Rasulullah SAW memerintahkan sebagian kaum Muslimin untuk hijrah ke Habasyah, sebuah negeri Nasrani yang dipimpin oleh Najasyi, seorang raja yang dipandang cukup adil terhadap rakyatnya. Puluhan sahabat Rasulullah menetap di wilayah Nasrani tersebut.Selamasepuluh tahun hidup di negeri orang, tentu bukan waktu yang sedikit untuk sebuah interaksi sosial yang bisa saling mempengaruhi. Ubaidillah bin Jahsy adalah salah seorang dari rombongan kaum Muslimin yang terpengaruh oleh budaya dan keyakinan masyarakat setempat. Awalnya ia tergoda untuk mengunjungi warung-warung minuman keras orang Habasyah. Selanjutnya, karena sering berada di tempat bermabuk-mabukan itu, lama-kelamaan pergaulannya dengan rakyat Habasyah membuat keyakinan dan perilakunya berubah drastis. Puncaknya, Ubaidillah keluar dari Islam alias murtad.
Dalam sejarah Islam, barangkali Ubaidillah bin Jahsy adalah fenomena pertama runtuhnya semangat keislaman akibat terkikis oleh arus lingkungan.
Sukar dibayangkan bagaimanakah seorang aktivis dakwah melarikan diri ke jalan yang bertentangan dengan tujuan dakwahnya sendiri? Tetapi inilah kenyataannya. Tidak sedikit kasus yang mencerminkan realitas orang-orang yang terpental dari jalan kebenaran. Dalam salah satu riwayat dikisahkan, suatu ketika dalam perang Hunain, Abu Hurairah melihat laki-laki yang bertempur dengan sangat gigih dan membunuh banyak musuh. Dengan luka parah ia kemudian kembali dari pertempuran. Tetapi kemudian esoknya laki-laki itu meninggal. Mengetahui hal itu Rasulullah justru berkata, “Dia masuk neraka.” Sebagian kaum Muslimin sempat meragukan pernyataan Rasulullah tersebut. Namun kemudian tersebarlah berita bahwa sesungguhnya laki-laki yang terluka sangat berat itu pada malam harinya tidak sabar atas sakitnya, kemudian ia bunuh diri. Berita itu kemudian disampaikan kepada Rasulullah. Maka beliau bersabda: “Allahu Akbar! Saksikan bahwa sesungguhnya aku adalah hamba Allah dan utusan-Nya.“ Rasulullah selanjutnya berpidato di hadapan para sahabat.“Sesungguhnya tidak akan masuk surga kecuali seorang yang jiwanya menyerahkan diri (kepada Allah). Dan sesungguhnya Allah mengokohkan agama ini dengan orang-orang yang berdosa (fajir).” (HR Muslim) Ada sebuah cerita ni…dizaman














