HTI-Press. Banyaknya gerakan Islam harus disikapi secara positif selama masing-masing gerakan berada dalam koridor Islam dan saling menjaga ukhuwah islamiyah, tidak saling ‘menistakan’ satu sama lain. Lalu bagaimana dengan keberadaan Hizbut Tahrir (HT) sendiri—sebagai salah satu elemen gerakan Islam—dalam konstelasi pergerakan Islam? Bagaimana sikap HT terhadap berbagai gerakan Islam lain? Bagaimana pula sikap HT terhadap gagasan penyatuan antargerakan Islam? Untuk menjawab beberapa pertanyaan di atas, berikut ini redaksi mewawancarai Jubir Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) M. Ismail Yusanto (Redaksi)
Gerakan Islam di Indonesia dan dunia begitu banyak. Bagaimana Hizbut Tahrir (HT) memandang fenomena ini?
Banyaknya gerakan Islam, menurut saya, kita tanggapi saja secara positif sebagai keragaman bentuk partisipasi umat dalam upaya untuk memajukan Islam. Maksudnya, itu menunjukkan semangat umat dengan caranya masing-masing memberikan segala yang dimilikinya untuk membuat Islam menjadi lebih baik dari kondisi yang ada sekarang.
Masalahnya, yang diperjuangkan oleh gerakan-gerakang Islam itu bermacam-macam.
Bahwa gerakan-gerakan itu begitu beragam baik dari segi pemikiran maupun orientasi geraknya merupakan konsekuensi dari kondisi Islam dan umatnya saat ini. Setelah tidak ada kehidupan Islam, ibarat buku, Islam adalah buku terbuka yang siapa saja bisa membaca, memahami, dan menginterpretasikannya. Dalam kondisi seperti ini, tidak ada satu pun pihak yang merasa otoritatif bisa memegang kendali interpretasi terhadap Islam dan bagaimana memperjuangkannya. Oleh karena itu, banyaknya gerakan Islam merupakan konsekuensi dari keterbukaan itu dan secara positif bisa dilihat sebagai cermin dari semangat umat untuk dengan berbagai cara berperan serta dalam upaya memajukan Islam.
Baca entri selengkapnya »














